Home Uncategorized Senandung Sendu Gemerlap Batu Akik

Senandung Sendu Gemerlap Batu Akik

Longsor Akibat Perburuan batu di Desa Tanalum

Penadesa – Musim hujan membawa berkah tersendiri bagi para penjual jas hujan dan para petani, karena saat musim hujan tiba mereka bisa menjual jas hujan lebih banyak dan sawah para petani menjadi subur.

Namun demikian, dibawah hutan di pojok Kecamatan Rembang, Purbalingga, di sebuah Dusun di Desa yang terkenal dengan seribu curugnya itu ada sekelompok warga yang ketakutan, was-was saat hujan deras turun.

“Kalau hujan deras rasanya was-was, resah, apalagi saat malam hari kami tidak tidur. Berjaga-jaga, takut ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi,” ungkap Suwaryo, sembari melinting rokok seraya menghembuskan nafas berat, seakan melepas kekhawatiran di hatinya, Selasa (17/10).

Ketakutan tersebut sangat beralasan, tanah yang labil dipinggir hutan dengan kemiringan 45° dan dekat dengan sungai yang aliaran airnya cukup deras saja sudah membuat khawatir, apalagi ditambah dengan perbuatan segelintir orang yang merusak hutan demi mencari keuntungan semata tanpa mengindahkan kelestarian alam dan masyarakat yang ada disekitarnya.

Kekhawatiran warga semakin bertambah sejak dua tahun lalu, saat batu akik sedang booming-bomingnya. Hutan yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari rumah mereka menjadi salah satu tujuan para pemburu batu, alhasil kerusakan sudah didepan mata. Meskipun perburuan batu tidak terjadi secara terus menerus, tetapi kerusakan tetap saja ada dan dampaknya cukup mengkhawatirkan.

“Rata-rata para pemburu batu mencari batu yang mereka anggap bagus, baik itu sebagai batu akik, maupun sebagai hiasan lainnya, para pemburu bukan dari warga sini, Kebanyakan dari luar wilayah,” ungkap Suwaryo,

Berbagai upaya penanggulangan telah dilakukan baik oleh warga sekitar maupun oleh pihak pemerintah desa setempat.

“Sudah berbagai upaya kami lakukan, dari menanam pohon bambu di tempat yang telah dirusak hingga melapor ke polisi hutan. Akan tetapi tidak membuat jera para pelaku, efeknya seperti ini” terang Suwaryo, seraya menunjukan lokasi yang longsor 2 bulan lalu.

“Untung saja pohon pinus yang terbawa longsor tersangkut pohon lainnya sehingga tidak jatuh dan mengenai lahan dan rumah kami,” imbuhnya.

“Kalau dari pihak pemerintah desa sendiri sudah melakukan himbauan, larangan, pencegahan dan sosialisasi bencana,” ungkap Taat Prianto, salah satu perangkat Desa Tanalum.

Pohon-pohon Pinus yang roboh terbawa longsoran tanah

Longsor yang terjadi baru satu titik saja sepanjang lebih dari 50 m, tetapi tidak menutup kemungkinan untuk timbul titik-titik longsor yang baru karena untuk mendapatkan batu yang bagus dan nilai jual tinggi, para pemburu tidak segan-segan untuk menggali tanah sebanyak mungkin hingga memperoleh batu yang mereka inginkan tanpa memikirkan akibat yang ditimbulkan dari ulah mereka terhadap kelangsungan hidup masyarakat dan lingkungan sekitar.

“Semoga secepatnya ada upaya dari pemerintah agar perburuan batu ini dapat segera dihentikan, sehingga kerusakan tidak terus bertambah” timpal Tuhad, warga yang rumahnya hanya bejarak 150 meter dibawah tebing yang longsor tersebut.

Ina Farida

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *